Kamis, 16 Juni 2016

KISAH ANAK PERBATASAN #2 (Syamsiar)

Doc. Pribadi: Perjalanan anak STB ketika pulang dari sekolah
Indonesia telah mewajibkan rakyatnya untuk menempuh bangku pendidikan. Itu artinya setiap anak harus bersekolah. Tidak terkecuali. Terlepas dari permasalahan carut marut permasalahan anak-anak di Indonesia yang putus atau tak dapat bersekolah. Terus bagaimana dengan anak Indonesia yang tinggal di luar negeri dan setiap hari pulang-pergi bersekolah di Indonesia? Jangan bayangkan mereka adalah anak orang kaya karena mereka hanyalah anak buruh sawit. Bagaimana kisah perjalanan mereka ke sekolah? Ini adalah tulisan dari siswa yang baru naik kelas 3 Madrasah Diniyah Darul Furqan Sekolah Tapal Batas. Cerita lucu yang bisa membuat kita bersedih jika kita berpikir.

PERJALANAN KE SEKOLAH YANG TAK  KENAL HUJAN ATAU PANAS


Saya Syamsiar. Saya adalah murid SMPN 1 Sebatik Tengah. Sekolah saya itu jauh sekali dari tempat tinggal saya. Kurang lebih 4 km jika berjalan kaki.

Setiap harii saya harus bangun pagi-pagi sekali. Yaitu jam 4 subuh saya sudah bangun. Saya selalu tidak bisa bangun sendiri. Saya selalu dibangunkan oleh ayah dan ibu yang sudah bangun duluan untuk menyiapkan sarapan untuk kami. Saya mempunyai 2 saudara perempuan dan 2 saudara laki-laki. 2 saudara perempuan sayasekolah di SDN 005 Sebatik Tengah, satu yang laki-laki sudah bekerja dan yang satu lagi masih kecil. Setiap pagi kami bertiga bangun pagi-pagi untuk pergi ke sekolah.

“Siar... bangun! Siar... bangun!”. Ayah saya membengunkan saya namun saya belum juga bangun.

“Siar... bangun! Siar... bangun!”. Ayah membangunkan saya lagi. Dan kali itupun ku ternagun dari tidurku yang sangat lelap.

Saya bangun pagi, mandi, sesudah mandi saya berpakaian lalu berwudhu untuk shalat subuh. Setelah shalat subuh saya lalu pergi makan. Sesudah makan, saya bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

“Mak... Pak... saya pergi sekolah dulu”. Saya berpamitan kepada orang tua.
Kebetulan pagi itu cuaca kurang baik.

“Sepertinya mau hujan”. Ujarku dalam hati. Aku lalu masuk lagi ke rumah mengambil payung untuk berjaga-jaga jangan sampai hujan saat di perjalanan. Kini saya hanya pergi ke sekolah hanya memakai sandal supaya sepatu saya tidak kotor terkena cipratan hujan. Lalu saya berpamitan lagi ke orang tua.

Saya berjalan dengan tiga orang laki-laki yang hampir seusiaku. Tiba-tiba saja dipertengahan jalan hujan turun dengan derasnya membasahi kami berempat. Saya mengeluarkan payung. Sementara tiga teman saya sibuk untuk mencari tempat berteduh. Saya hanya bisa menolong mereka dengan membawakan buku-buku mereka yang banyak sekali. Yang beratnya sampai membuat badan saya sakit.

Lalu teman saya yang bernama Dimas meminta benda-benda yang tajam guna untuk memotong daun pisang agar dapat memayungi badan mereka yang hampir basah semuanya. Tapi saya tak punya benda tajam untuk memotong daun pisang. Merekapun mencari batu tajam yang bisa memotong daun pisang.

Perjalanan kaki itu begitu melelahkan saya yang harus membawa buku-buku yang sangat berat. Di tambah lagi sepatu dan payung yang saya pegang.

Setibanya di tempat kendaraan yang selalu saya naiki, hujan sudah mulai redah. Saya basah sebagian badan sementara tiga teman saya basah kuyup karena tidak ada tempat untuk berteduh. Kami mencuci kaki lalu memakai sepatu dan pakaian yang kami lepas. Sesudah itu barulah kami naik ke kendaraan yang sdh menunggu kami.


Begitulah kisah perjalanan kami untuk pergi ke sekolah. Tak kenal hujan ataupun panas. 

Selasa, 14 Juni 2016

KISAH ANAK PERBATASAN (Nur Fitriani)

Nur Fitriani
KISAH ANAK PERBATASAN

Assalamu alaikum wr. wb.

Hallo teman-teman, saya Nur Fitriani. Kalian bisa panggil saya Fitriani. Saya duduk di kelas 3 Madrasah Diniyah. Lewat tulisan ini saya ingin menceritakan kisah hidup di perbatasan. Kalau mau tau teman-teman, hidup di perbatasan ini ngak sama dengan hidup di perkotaan yang serba kecukupan. Perbedaannya bukan itu saja namun banyak lagi. Salah satunya adalah gaya bahasanya. Kami, anak-anak di perbatasan ini hidupnya dengan dua gaya bahasa yaitu Indonesia dan Malaysia. Tapi kebanyakan selalu menggunakan bahasa Malaysia. Mungkin karena kami tinggalnya di Malaysia dan sekolahnya di Indonesia. Tapi anak-anak di perbatasan itu lebih banyak yang cinta Indonesia dibanding Malaysia. Guru kami mengajarkan bahwa bahasa Indonesia itu perlu diketahui oleh anak-anak Indonesia. Apa gunanya kalau anak Indonesia ngak tahu bahasa Indonesia.

Ada pepatah yang mengatakan DARIPADA HUJAN EMAS DI NEGERI ORANG, LEBIH BAIK HUJAN BATU DI NEGERI SENDIRI. Itu memang benarkan teman-teman? Teman-teman, kalau mau tahu juga tempat tinggal kami dari persekolahan itu jaraknya sangaaaaaat jauh. Kita menempuhnya selama satu setengah jam. Lumayan jauh kan? Dan kami kesekolah itu bukan naik sepeda motor tapi kami berjalan kaki karena kurangnya transportasi. Walaupun demikian kami tak peduli yang penting tujuan, dan rasa cinta kami tetap untuk Indonesia. Kami akan membuktikan bahwa kami adalah generasi penerus bangsa yang akan datang untuk Indonesia.

Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan wabillahi taufik walhidayat
Wasalamu alaikum wr. wb.

Senin, 13 Juni 2016

CERITA ANAK TAPAL BATAS (ASRINA)

Asrina
Setiap anak pasti sangat senang bila akhir pekan tiba. Dan setiap anak pastinya punya aktivitas tersendiri ketika liburan. Selalunya ada hal-hal yang selalunya menarik untuk didengarkan tentang pengalaman mereka. Apa yang biasa dilakukan anak-anak Sekolah Tapal Batas ketika akhir pekan tiba? berikut cerita yang di tuliskan adik kita Asrina murid Madrasah Diniyah yang baru naik kelas 3 MD Darul Furqan STB.

Pengalamanku

Senangnya, minggu pagi ini aku awali dengan senyum gembira, aku langsung pergi ke kamar mandi, cuci muka dan berus (menyikat) gigi. Setelah mandi aku langsung pergi pakai baju, dan mengemas di kamar dan di ruang dapur, dan cuci piring.

Aku langsung pergi ke rumah ke rumah tetangga, makan mangga, makan kelapa campur susu. Sudah makan buah-buahan, aku nonton televisi dan berehat-rehat. Sore harinya, aku naik rumah untuk belajar. Setelah belajar aku turun tangga dan duduk di bawah kolong rumah.

Aku bermain-main dengan kucingku tapi kucingnya nakal sekali. Kadang-kadang aku pukul dia dan dia pun lari. Aku main hape, telpon sembarangan orang, dan tidak terasa aku jatuh dari tempat duduk, aku pun menangis. Tetapi tertawa juga.

Tak terasa maghrib telah tiba. Aku pun naik dan tutup jendela. Aku turun lagi dan pergi ke rumah tetangga untuk nonton. Sesudah nonton saya belajar lagi, setelah itu akupun tidur. Zzz...

Karya: Asrina

Kamis, 26 Mei 2016

TRAINING PARENTING BAGI PARA ORANG TUA DI BERANDA NEGERI

TRAINING PARENTING BAGI PARA ORANG TUA DI BERANDA NEGERI
Gambar di ambil dari http://rumahceritaanak.com/

Training parenting tahap I merupakan salah satu kegiatan Sekolah Literasi Indonesia. Gunanya adalah mengsinergikan tujuan yang ingin di capai oleh sekolah dengan orang tua siswa. Kegiatan ini juga mendidik para orang tua agar lebih berperan aktif dalam mendidik anaknya saat berada dirumah. Semua pembelajaran dan pembiasaan  yang ada di sekolah harus tetap dilaksanakan sang anak atas pengawasan orang tua saat berada di rumah agar nilai-nilai yang telah di ajarkan semakin menguat. Itulah kenapa harus ada sinergi antara orang tua siswa dengan sekolah.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan acara isra miraj Sekolah Tapal Batas ini di bawakan oleh Shalipp Sanri Geolfano, S.Pd dan Achmad Salido sebagai Fasilitator selaku Guru Konsultas SGI-Dompet Dhuafa penempatan Kabupaten Nunukan.

Pada tanggal 8 Mei 2016 para orang tua siswa yang tinggal dari berbagai tempat di Sebatik Indonesia dan sebatik Malaysia datang berbondong-bondong ke Sekolah Tapal Batas untuk mengikuti kegiatan Training Parenting ini.

Para orang tua sangat antusias mengikuti kegiatan ini walaupun kondisi yang sedang hujan lebat dan padam listrik.

Di akhir acara pembicara menegaskan agar para orang tua siswa lebih aktif lagi di kegiatan parenting yang selalu di laksanakan sekolah tiap bulannya. Pihah sekolah dan guru pendamping juga mengharapkan partisipasi aktif pihak Komite Sekolah untuk menyukseskan kegiatan parentin di bulan-bulan mendatang.

Sebatik, 8 Mei 2016
Shalipp S. Geolfano, S.Pd


Rabu, 25 Mei 2016

PARENTING: CARA BIJAK MENYIKAPI ANAK YANG SUKA BEMAIN

PARENTING: CARA BIJAK MENYIKAPI ANAK YANG SUKA BEMAIN

Sama halnya seorang suami butuh bekerjan untuk menafkahi keluarganya dan seorang ibu butuh keahlian memasak untuk memasakkan suami dan anaknya. Bermain bagi seorang anak adalah suatu kebutuhan. Semua akan berjalan harmonis jika kebutuhannya terpenuhi. Dengan bermain anak bebas mengekspresikan segala potensi yang ada dalam dirinya dan menyalurkan semua energinya sehingga bisa tertawa lepas. Bahkan menurut Sylva, Bruner dan Paul menyatakan bahwa dalam bermain prosesnya lebih penting dari pada hasil akhirnya, karena tidak terikat dengan tujuan yang ketat.

Agar anak mendapatkan esensi dari bermain, tidaklah mesti menggunakan alat-alat bermain yang mahal seperti halnya mobil-mobilan remote control, game playstation, ataupun gadget. Bermain benteng (jaga) dan kejar-kejaran merupakan salah satu permainan yang dapat merangsang anak menjadi aktif dan mengajarkan anak untuk bersosialisasi dan berkompetisi yang mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya.

Alat-alat bermain yang mahal yang biasa digunakan oleh anak-anak perkotaan (golongan menengah ke atas) juga tidak semuanya memiliki sisi edukatif. Bahkan akan membawa pengaruh negatif jika tanpa disertai bimbingan orang tua.

Kecenderungan orang tua membelikan anaknya permainan yang mahal ketimbang membuatkan permainan tradisional bukanlah sesuatu hal yang salah. Asalkan permainan tersebut mampu menumbuhkan kreativitas, rasa sosial, dan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki anak dengan baik.

Peran orang tua bukanlah hanya untuk menyediakan permainan untuk anaknya. Tetapi juga harus membimbing dalam penggunaannya. Contohnya seperti penggunaan gadget yang begitu mudah mengakses berbagai macam game online, orang tua harus menjelaskan kepada sang anak nilai-nilai yang harus di ambil dari permainan itu agar anak tidak mengartikan sendiri sesuka hati.

Begitupun juga bila orang tua ingin mengarahkan anaknya agar menggunakan benda-benda disekitarnya sebagai alat bermain. Penting kiranya orang tua menjelaskan benda-benda yang tersedia di alam ataupun barang bekas dapat digunakan sebagai alat bermain, seperti daun kelapa sebagai kincir angin, batu kerikil untuk bermain batu-lontar, ataupun kardus untuk mobil-mobilan dan pesawat terbang.

Sebatik, 26 Mei 2016
Shalipp Sanri Geolfano, S.Pd

Minggu, 22 Mei 2016

GURU KONSULTAN UNTUK TAPAL BATAS

GURU KONSULTAN UNTUK TAPAL BATAS
Dok. Pribadi: Penanda tanganan MoU Makmal Pendidikan dan Sekolah Tapal Batas di saksikan oleh Ketua Depag. Nunukan, Camat Sebatik Tengah dan Kapolsek Sebatik Tengah


Kamis, 11/2/2016 Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa melalui Makmal Pendidikan menggelar launching program pendampingan Sekolah Cerdas Literasi Indonesia di Sekolah Tapal Batas MI. Darul Furqon tepatnya di Desa Sungai Limau,
Bersamaan dengan launching di Sekolah Tapal Batas, program ini juga dilaksanakan di sepuluh titik di seluruh Indonesia yaitu; Polewali Mandar, Kepulauan Meranti, Musi Rawas Utara, Kapuas Hulu, Banten, Jakarta, Tasikmalaya, Cianjur dan Manggarai Barat NTT. Untuk mendukung kegiatan ini, ada 19 orang relawan yang diturunkan oleh Makmal Pendidikan ke sepuluh titik tersebut. Relawan-relawan tersebut berasal dari lulusan fresh graduate yang diseleksi dari seluruh Universitas yang ada di Indonesia. Untuk mendapatkan ilmu terkait sekolah literasi dan pendampingan sekolah, para relawan dibina selama 3 bulan di kampus Sekolah Guru Indonesia. Selanjutnya para relawan ini ditempatkan di daerah marginal selama setahun. Dua relawan yang ditempatkan di sekolah tapal batas adalah Achmad Salido dan Shalipp Sanri Geolfano.
Program Sekolah Literasi Indonesia yang digagas Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa secara umum berfokus pada pendampingan sekolah yang  memiliki dua lingkup pengembangan yaitu Sistem Instruksional dan Budaya Sekolah. Sistem Instruksional berbicara tentang kemampuan kepala sekolah mengembangkan profesionalisme guru sebagai tenaga pendidik. Sedangkan budaya sekolah berbicara tentang kemampuan kepala sekolah melakukan perbaikan manajemen sekolah. Program Sekolah Literasi Indonesia memiliki kekhasan dengan menyasar pada tiga hal. Kelas literasi terpadu untuk siswa menjadi sasaran yang pertama dengan muatan program ceruk ilmu atau gemari baca, literasi karakter dan jurnalis cilik. Berikutnya adalah kelas literasi terpadu untuk guru dengan hasil yang diharapkan adalah kronik guru, kelas trainer dan learning community berbasis literasi. Sedangkan sasaran ketiga adalah untuk orang tua siswa yang menitikberatkan pada parenting berbasis literasi” ungkap Abdul Kodir selaku  pendamping Guru Konsultan dari Makmal Pendidikan dalam sambutannya.
Dok. Pribadi. : Penyerahan cindera mata

Lebih lanjut, dikatakan Abdul Kodir bahwa “Program Sekolah Literasi Indonesia memiliki tujuan untuk mengembangkan kemandirian sekolah pada 6 jenis keunggulan. Keunggulan yang dimaksud adalah kecakapan literasi, efektifitas pembelajaran, kepemimpinan instruksional, lingkungan belajar yang kondusif, pembentukan karakter/akhlak dan efektifitas manajerial.
Hadir dalam kegiatan Launching sekaligus memberikan sambutannya, bapak Harman selaku Camat Sebatik Tengah. Dalam sambutannya dia mengungkapkan bahwa, “di daerah perbatasan saat ini, sarananya masih terbatas namun ini bukan berarti akan membatasi ide-ide anak-anak untuk sekolah. Beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa yang telah setia mendampingi sekolah di sebatik selama 3 tahun berturut-turut. Lebih lanjut dalam sambutannya, memberi arahan kepada para guru untuk lebih aktif dalam mengikuti seluruh program yang akan diselenggarakan oleh Guru Konsultan dari makmal Pendidikan. Sebab untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang bagus, harus memiliki cetakan yang bagus pula. Selain itu, beliau juga meminta kepada para orang tua siswa untuk mendukung sepenuhnya pendidikan anak. Jangan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Karena waktu terbanyak anak berada dalam lingkungan keluarga”.
Hadir juga dalam acara launching, Kemenag. Kabupaten Nunukan. Beliau berpesan agar sekolah Madrasah Ibtidaiyah Tapal Batas Darul Forqon memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan sekolah-sekolah lain. Sedangkan Ibu Suraidah selaku Kepala Sekolah MI Tapal Batas Darul Furqon, mengungkapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa. Sebab, dalam pendirian sekolah tapal batas, Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa telah banyak memberi bantuan. Beliau mengharapkan agar pendampingan yang diberikan tetap berlanjut, hingga MI Tapal Batas benar-benar bisa menjadi sekolah model percontohan yang ada di Kecamatan Sebatik Tengah.
Foto bersama pasca MoU

Dalam rangkaian acara tersebut dilakukan pula penandatanganan MoU antara sekolah dan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa untuk program pendampingan selama setahun. Semoga dengan adanya program pendampingan ini sekolah tapal batas dapat menjadi sekolah berkualitas kedepannya. 

Jumat, 20 Mei 2016

MENAKLUKKAN SANG KOMBET (AIDIL)


MENAKLUKKAN SANG KOMBET (AIDIL)
 Muhammad Aidil. Siswaku di kelas I Sekolah Tapal Batas MI Darul Furqan. Teman-temannya biasa memanggilnya Aidil. Tinggal bersama orang tuanya di Kongsi 10 Bergusung, Malaisia – tempat pemukiman para buruh kelapa sawit milik perusahaan Malaysia-. Sama seperti teman-temannya yang lain, setiap harinya Aidil berjalan kaki melintasi batas negeri untuk bersekolah. “kalau liburan, aku bantu bapak pungut biji sawit. Nanti bisa dibagi duit untuk jajan” ungkapnya ketika aku tanya aktivitasnya ketika hari libur.  

Cita-citanya ingin menjadi kombet (tentara). Karena cita-citanya itu, Aidil sangat senag jika di hukum push-up saat latihan pramuka. Gaya jalannya pun begitu lihai mencontohkan seorang tentara perbatasan yang melenggak ke kanan dan ke kiri menghampiri mobil yang dicurigai membawa narkoba. Hampir setiap hari Aidil berkelahi dengan temannya di sekolah pada saat pembelajaran berlangsung terlebih lagi keluar istirahat. Semua temannya ditantang untuk berkelahi. Kakak kelasnya sekali pun. Tak ada yang membuatnya takut. Anggapannya, dialah yang paling hebat.

Aku pun di buat geram awal berjumpa denngannya. Saat itu aku sedang mendampingi proses pembelajaran di kelas I. Dari awal pembelajaran Aidil hanya terus berbaring di lantai. Teguran dari gurunya tak dihiraukan. Saat bangunkan, dia melemaskan badannya sambil berpura-pura tidur. Jika di tegur dengan nada yang keras, Aidil malah lari bersembunyi di balik tumpukan papan penutup jendela. Aku mencoba menghampirinya, menarik tangannya untuk mengajaknya kembali ke tempat duduknya agar mau ikut belajar. Reaksinya masih sama, melemaskan badannya dan berpura-pura tidur.


Bukunya masih kosong dan sangat sulit menyuruhnya menyelesaikan sebaris tulisan pun. Jika di paksakan, dia akan marah keluar kelas untuk bermain. Ah... anak ini, di biarkan malah bermalas-malasan, di paksa malah makin menjadi.

Tak ada asap jika tak ada api. Sikapnya yang demikian pastilah beralasan. Perhatianku kucoba fokuskan kepadanya dibeberapa hari kemudian. Setelah memerhatikannya beberapa kali akupun mengetahui penyebabnya. Ternyata Aidil belumlah lancar menulis walaupun telah menghafal abjad. Itulah yang membuatnya malas menulis ketika di kelas. Ketika tetan-temannya yang lain sudah menyelesaikan tugasnya, Aidil malah kebingungan menuliskan setiap abjad di paragraf pertama tulisannya. Bahkan Aidil harus berdiri persis di depan papan tulis sambil menunjuk setiap huruf agar bisa menuliskannya dengan benar. Tapi sayang, satu-satunya usaha terbaik yang bisa dilakukannya tersebut mendapat sumbut yang kurang baik dari teman-temannya. Caranya tersebut menghalangi siswa lainnya untuk membaca tulisan di papan tulis. Akhirnya tak jarang Aidil sering ditegus oleh temannya karena hal itu dan itulah yang membuat bukunya selalu kosong, berpura-pura tidur, atau melarikan diri saat pembelajaran.

Tak ada yang bisa menahannya saat sedang marah. Bermain di luar lebih baik baginya dibanding duduk dikelas yang tidak bisa memahaminya.

Akhirnya masa itu pun tiba. Aku menjadi guru model di kelas I. Aidil telah menjadi sosok monster kecil yang telah membuatku geram beberapa hari ini. Kelaspun di mulai dan Aidil masih dengan sikapnya yang sama. Baginya semua guru saama saja. Kuturuti keinginannya untuk tidak menyelesaikan tulisan saat pembelajaran dengan syarat Aidil tetap duduk di kelas mendengarakan kelasku. Tapi hal itu tak dapat menahannya cukup lama. Sesekali waktu dia mencuri-curi waktu untuk keluar kelas. Akhirnya aku memberikannya sanksi. Tak boleh keluar main sebelum selesai menulis. Hukuman tersebut dijalaninya dengan menggerutu. Dengan cara yang sama berdiri di depan kelas dan menunjuk tiap abjad, Aidil hanya mampu menyelesaikan 2 baris dari 5 baris tulisan.

Tak apalah untuk hari ini, setidaknya Aidil bisa membawa hasil tulisaannya sendiri untuk di perlihatkan kepada orang tuanya. Betapa senangnya dia ketika aku memberi nilai 80 untuk 2 baris tulisannya tersebut. Aku janji padanya jika ia menyelesaikan sisanya di rumah, aku akan memberinya nilai 100. Akupun menuliskan ulang materi hari itu di selembar kertas dan menempelkan ke bukunya.
Keesokan harinya semacam aku tak percaya. Tugas yang aku berikan diselesaikannya dengan baik. Tak hanya menyelesaikan tugasnya, semua tulisan materi kemarin di ulang tulisnya dua kali dan di tambah materi penjumlahan dari ibunya. Aku tunaikan janjiku kepadanya, nilai 100 untuk tugas dariku dan menambahkan nilai 100 untuk tugas dari ibunya. Hari itu kulihat reka senyum polosnya mendapat nilai 100. Betapa bahagianya Aidil saat itu. Tak pernah kemelihat dia sebahagia itu sebelumnya. Wajarlah bila iya sangat bahagia, jangankan dapat nilai 100, mendapat nilaipun sangat jarang karena tak pernah menulis. Perlakuan yang sama aku lakukan bagi siswa siswi lainnya yang mempunyai kendala seperti Aidil.



Perlahan akupun mulai bisa menaklukan Aidil si Kombet Perbatasan. Membuatkan salinan materi untuk dituliskaannya kembali di rumah cukup berhasil. Dan selalunya aku memberikan tugas tersebut di saat melaksanakan kelas model walaupun Aidil hanya menyelesaikan beberapa baris saat di sekolah. Tapi sisanya selaalu ia selesaikan di rumah dan memperlihatkannya besok di sekolah. “Pak Ustadz, ini tulisanku. Bagi nilai! Nanti aku kasi liat lagi ibuku.” Pinta Aidil Aidil dengan gaya nyengirnya yang khas.

SSG, 20 Mei 2016